Hi, ini bukanlah cerita biasa yang sering anda baca ataupun dengar. Setiap orang bebas bercerita apa saja, tema bebas, topik terhangat atau yg paling diinginkan. Well, secara teori memang sekedar bermakna namun lebih cepat terbuang. Dan kali ini, biar kami bercerita tentang perjaka hilang ditelan waktu entah kemana.
Sore itu, saya dan teman saya berkumpul. Seperti biasa kami mengobrol tentang seputar yang tidak jelas, ngalor kidul ataupun tidak berguna sekali. Tetapi di saat itu juga terjadi sesuatu diluar batas pikiran manusia. Kejadian aneh namun tidak nyata sudah pasti. Perjaka salah satu teman menghilang entah kemana.
Inilah menjadi topik terhangat kita. Paling utama untuk diteliti, bila perlu berdebat sekali-sekali juga perlu. Jika diperlukan. Sudah lama tidak mengetik, tanganku langsung pegal. Seperti klimaks langsung lemas. You sudah tahu artinya. Serasa malas untuk meneruskan cerita ringan ini.
Tepatnya, suasana sore menjelang malam. Angin bertiup sedang saja, tidak ada kehebohan yg akan membuat teman-teman terkaget-kaget bahkan terkencing-kencing melihat termehek-mehek. Normal saja. Seperti biasanya. Kita semua dikejutkan beberapa peristiwa yang sampai saat ini masih tersimpan di hati.
Jika sampai tersimpan di ingatan, sorry-sorry aja. Kita tidak begitu orangnya. Kita kaum keren yang suka menulis kisah sejati.Menurut banyak orang, kisah sepele yang digembor-gemborkan. Lalu apa yang menjadi membuat kalian penasaran?
Begini ceritanya, sore itu menjelang malam. Di tengah asyiknya berkumpul dan bercengkrama. Betul ga sih. Kami semua dikejutkan dengan suara lantang berasal dari Dudi. "Dud, kamu kenapa" tanya Ancol. "aku gpp" jawab Dudi.
"Lalu kamu kenapa teriak dengan nyaring seperti tong kosong" tanya Ancol lagi. "jika bukan tong kosong, berarti tong berisi" jawab Dudi dengan antusias. Kamu sudah tahu kan seperti apa menjawab dengan antusias itu. Itu loh, menjawab dengan tatapan berbinar-binar diiringin senyum kecil-kecil genit pengen ditempeleng bolak-balik. Bahkan kalau ada karung di saat itu, mungkin Dudi sudah digulung dimasukkan ke karung, disiksa beramai-ramai.
"begini teman-teman. Bagaimana kalau aku, jadian dengan Eva. Anak IPA. Paling cantik di sekolah kita" Lanjut Dudi. Sebenarnya, kami semua berpikiran serta membayangkan. Dudi adalah pria pemilik wajah pas-pasan. Bahkan kurang sekali untuk mendapatkan Eva. Tetapi, sebab dan karena kita semua ini temannya. Tidak ada hal paling bahagia, selain menyenangkan teman. Betul! ( seperti orang berceramah di tv itu, bahasa gaul di dunia ceramah uy ).
" Kalau memang itu niat kamu, dan itu sudah menjadi keputusan yg kamu keluarkan bulat-bulat. Kami sebagai teman-teman kamu selalu mendukung dan setuju agar kamu jadian dengan Eva" Jawab Saya. Saya loh, bukan teman-teman.
"lagian, kami semua melihat kamu, Dud. Orangnya seriusan dan mau berusaha untuk mendapatkan apa yg kamu mau. Misalnya, kamu mau makan coklat ayam, kamu bisa ngutang di warung. Mau pulpen berwarna, kamu bisa pinjam ke adik kamu. Dan masih banyak lagi. Disini kami melihat, kamu itu Dud benar-benar pria tangguh dibandingkan dengan kami semua." Lanjut aku ya.
"Jadi sudah sepantasnya kamu mengejar Eva dan kami-kami ini yang berlomba menjadi pacarnya Eva."
Setelah saya mengeluarkan kata-kata diatas, keluarlah suara geledek. Yang sangat besar. Bahkan menyakiti telinga dan palung jiwa ini. Membuat tubuh remuk serasa ditabrak becak dari dekat. Bagai rumput bergoyang diterpa angin lalu diinjak-injak orang tak bertanggung jawab. Layaknya dihempaskan dari puncak menara eiffel dekat rumah. Bak jemuran yang lepas dari ikatannya. Wah banyak sekali perumpamaan ini.
"Dud, stop it... stop it" kata Raksa. Raksa adalah teman kami yg memiliki tubuh paling besar dan paling mengerikan di komplek perumahan kami. Sambil memegang bakwan 2 pcs di tangan kiri, dan tangan kanan memegang pundak Dudi. Di saat itu, Dudi kejang-kejang seperti ayan, karena overdosis antusias tadi kali ya.
Dengan sedikit keras, Domdom bertanya kepada Raksa. "beli dimana bakwannya, Sa? Minta 1 ya.". Lalu jawab Raksa "nih, ambil aja.:. Lalu sambil memakan bakwan, Domdom bertanya kepada Raksa. "Si Dudi kenapa ya? Kok bisa kejang-kejang begitu?"
Tetapi aneh. Ancol setelah melihat Dudi kejang-kejang, malahan menari-nari seperti penari profesioanl. Sambil memetik bungan di pekarangan, diselipkan satu di telinga. Mengibas-ibaskan tangannya dan membusungkan dadanya. Membuat kami yg tadi terkaget-kaget terkencing-kencing menjadi muntah. Eneg dibuatnya. Dan mulai dari situ, kami mulai sadar. Ada yang tidak jelas disini. Sesuatu aneh dan mistis. Diluar nalar manusia. Inilah sebuah misteri di antara kami semua. Perlu dipecahkan bersama-sama. Bahkan sampai darah penghabisan ataupun bakwan raksa habis. Tidak perlu beli lagi, kita suruh saja orang lain yg membuat. Kita yg membiayai, orang lain mengerjakan.
Tanpa kami sadari, pemirsa. Sehabis memakan bakwan. Domdom mulai menunjukkan gejala aneh. Sepertinya semua ini di rekayasa. Seperti film David Ducovny X files kl ga salah judulnya. Dia berlari meninggalkan kami semua, sampai semua mata ini takjub dan terdiam sementara waktu. Mungkin, salah satu di antara kami, berpikiran sungguh luar biasa khasiat bakwan ini. Bisa membuat seseorang berlari dengan cepat tanpa permisi dulu ataupun berkata sepatah kata.
Beranda
»
cerita dewasa
»
dewasa
»
i love u
»
kedewasaan
»
luar biasa
»
pasti
» Perjaka Saya Hilang Entah Kemana

0 komentar Blogger 0 Facebook